Anda pernah mendengar obrolan atau membaca artikel tentang Kabupaten
Jembrana yang ada di bagian barat Pulau Bali? Dan apakah obrolan atau
tulisan itu seputar inovasi teknologi di Kabupaten Jembrana. Bila
pernah, semua itu benar adanya. Bahkan kabupaten yang kurang lebih
berjarak 100 kilometer dari Denpasar itu acap mendapat sorotan dari
beberapa media, baik nasional maupun dunia.
Sangat wajar bila Kabupaten Jembrana menarik perhatian banyak media.
Sebab, salah satu alasannya, di daerah tersebut telah berlaku kartu
tanda penduduk (KTP) berwujud smart card yang bisa untuk
mengakses semua layanan fasilitas umum. Kartu multifungsi itu disebut
Jembrana Smart Card atau disingkap J-Smart. Boleh dibilang, kartu
tersebut adalah salah satu terobosan Pemkab Jembrana dalam rangka
meningkatkan kinerja layanan publiknya dengan memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi.
Meski demikian, bentuk KTP milik penduduk di sana sama dengan KTP-KTP
yang ada di Indonesia. Bedanya, KTP yang berlaku di Kabupaten Jembrana
mempermudah warganya dalam segala hal yang bersifat layanan publik. KTP
bernama J-Smart itu tidak hanya untuk pegawai pemkab, tetapi juga bagi
siswa-siswa sekolah.
Bagi para siswa, J-Smart mampu mengintegrasikan tabungan siswa,
pembayaran makanan di kantin sekolah, kartu perpustakaan, kartu diskon,
kartu absensi, dan sekaligus menjadi kartu siswa. Jadi, ketika orang
lain masih berpikir dan menginginkan layanan satu atap, justru warga
Kabupaten Jembrana sudah menikmati semua layanan dengan satu kartu,
mulai dari layanan pendidikan, kesehatan, kepegawaian, hingga bisnis.
Penggunaan J-Smart diresmikan pada 25 Agustus 2008 di Hotel
Jimbarwana, Jembrana. Kartu ini adalah hasil inovasi dan kolaborasi
Pemkab Jembrana dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali sebagai
penyandang dana dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
sebagai pembuat perangkat lunaknya.
Berbeda dengan kartu ATM yang hanya memiliki magnetic stripe, J-Smart
juga dilengkapi dengan chip sebagai media penyimpan data. Alhasil,
kombinasi magnetic stripe dengan chip akan meningkatkan efisiensi dan
memudahkan integrasinya dengan fungsi-fungsi lainnya, seperti mobile
payment. Bahkan, untuk pemilihan bupati tahun depan, Jembrana juga
merencanakan penggunaan e-voting, yakni sistem dengan pemakaian layar mesin touch screen.
Kebijakan itu diambil karena dapat menghemat dana hingga 70 persen
dibanding biaya pemilihan umum dengan sistem yang selama ini
berlangsung, yaitu mencoblos atau mencontreng.
Awalnya Hanya Kabupaten yang Miskin
Anda keliru bila menganggap Kabupaten Jembrana memiliki banyak modal
sehingga mampu memberlakukan KTP semacam smart card dan berencana
menyelenggarakan pemilu berteknologi touch screen. Sebab, sebelumnya,
Jembrana memiliki dana yang sangat terbatas dan tergolong kabupaten
miskin di Bali. Meski demikian, hal tersebut justru memicu pemerintah
setempat untuk memanfaatkan sumber daya yang ada.
Adalah Bupati Jembrana, I Gede Winasa, yang menjadi tokoh di balik
besarnya nama Kabupaten Jembrana saat ini. Bekal pengalaman menimba ilmu
di Universitas Hiroshima dan Universitas Tokushim (Jepang) mampu ia
manfaatkan bagi Kabupaten Jembrana, terlebih sejak ia didapuk menjadi
bupati pada tahun 2000. Salah-satu hal yang bisa ia tiru dari Negeri
Sakura adalah implementasi teknologi informasi bagi semua sektor.
Bahkan, saat baru saja menjabat sebagai bupati, Winasa membentuk
dewan antikorupsi sendiri. Para pejabat yang ketahuan gemar menyedot
uang negara segara diperiksa, ditindak, diadili, dan dipecat. Bahkan
guru-guru yang mencari uang tambahan dari murid pun bisa dipastikan
terkena tindakan. Semua itu dilakukannya dengan berbekal filosofi bahwa
“yang sakit diobati, yang rusak dicabut”. Tak mengherankan bila banyak
terdapat baliho bertulisan ”Anda Memasuki Kawasan Bebas Pungli” yang
terpasang di tiap pintu gerbang masuk halaman Pemkab Jembrana.
Pembangunan teknologi digital di Kabupaten Jembrana memang telah
menghabiskan biaya yang sangat besar. Dan ini barangkali menjadi sebuah
pertanyaan besar bagi kita, bagaimana mungkin Kabupaten Jembrana yang
angka APBD-nya relatif kecil bisa membangun infrastruktur jaringan yang
begitu besar, sementara banyak daerah lain yang angka APBD jauh lebih
besar belum bisa membangun e-government dengan baik. Semua itu
karena manajemen keuangan di Kabupaten Jembrana untuk pembangunan ICT
dikelola secara baik dengan menggunakan strategi pembiayaan gotong
royong.
Berkat penerapan teknologi digital secara optimal, pada tahun 2006
lalu, Kabupaten Jembrana berhasil meraih piala Citra Bhakti Abdi Negara,
Piala Citra Pelayanan Prima, dan Piagam Penghargaan Citra Pelopor
Inovasi Pelayanan Prima. Selain itu, juga berkat keseriusan menerapkan
teknologi, Pemkab Jembrana menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang
mampu mengolah air laut menjadi air minum tawar beroksigen.
Atas semua keberhasilan itu, hingga kini Winasa kerap dikunjungi para
tamu dari berbagai instansi pemerintahan lainnya di seluruh Indonesia.
Bahkan selama 2008, ia harus menerima tak kurang dari 500 tamu yang
datang dari berbagai tingkatan, misalnya menteri, gubernur, kolega
sesama bupati atau wali kota, dan kepala-kepala dinas yang ingin
melakukan sudi banding.
Pengalaman Kabupaten Jembrana menunjukkan bahwa political will,
terutama dari pemimpin daerah, adalah faktor penentu keberhasilan
sebuah program kerja. Sepanjang sang pemimpin memiliki keberpihakan
kepada rakyat dan memiliki pemikiran yang terbuka terhadap perkembangan
teknologi, segala kelemahan atau keterbatasan pasti bisa diatasi.
*Diolah dari berbagai sumber

3 komentar:
Pak Gede layak naik jabatan, semoga bisa jadi gubernur atau mendagri.
saya rindu pemimpin seperti Bapak Winasa. Pemimpin yang mengerti rakyat. terlepas kasus yang menipa Pak winasa, kami bisa berobat geratis (hanya di jembrana), anak anak kami sekolah geratis ( ditempat lain belum ada), angkuta umum murah dan mudah pake AC pula.dan program kerja Pak Winasa sangat pro rakyat
Om Teddy dan Om Amank Bali : Seandainya Itu terwujud, Mungkin Kita bisa lebih berharap lagi untuk Indonesia dan Bali khususnya, Saat kita merantau ke luar, bangga mengatakan asli jembrana krna pendidikan yang gratis dan kesehatan yang terjamin ( Saat Winasa Menjabat Sbg Bupati )
Bayangkan SD-SMP-SMA Semua Gratis ( Selain Baju Seragam dan penjunjang lainnya ) Beda dengan Adik saya bersekolah di Denp*sar, Serba mahal, Setiap bulan selalu ada iuran sekolah sumbangan sukarela yang diberi minimal sumbangan.. Biaya Smester, Biaya Gedung dsb, Sampai tidak bisa disebuti 1 per satu..
Saat kuliahpun Jembrana Mau membantu kami dengan memberi BEASISWA. Beliau Pantas Saya Sebut Pahlawan Anak Bangsa
Posting Komentar
Mohon Tulis Komentar Sewajarnya, Terimakasih Atas Kunjungan Anda